Donasi sperma memungkinkan banyak orang untuk mewujudkan keinginan memiliki anak – baik itu untuk wanita lajang, pasangan lesbian, maupun pasangan heteroseksual dengan masalah infertilitas pada pria. Agar langkah ini dapat dilakukan secara aman dan bertanggung jawab, disarankan untuk mencari informasi sejak awal mengenai risiko potensial seperti penyakit menular dan faktor genetik. Hanya dengan demikian keputusan yang tepat dapat diambil dan keinginan untuk memiliki anak dapat direalisasikan dalam lingkungan yang terlindungi.
Infeksi Virus
Bahkan tanpa hubungan seksual langsung, patogen virus dapat ditularkan melalui sel sperma. Berkat teknologi modern dan standar skrining yang komprehensif, risiko ini memang kecil, namun tidak dapat sepenuhnya diabaikan. Beberapa penyakit akibat virus yang sering dikaitkan dengan donasi sperma meliputi:
- HIV (Human Immunodeficiency Virus): HIV yang tidak diobati dapat menyebabkan AIDS dan terutama ditularkan melalui darah atau kontak seksual. Bank sperma yang diatur oleh negara melakukan tes HIV pada semua donor dan biasanya menerapkan masa karantina.
- Hepatitis B dan C: Kedua jenis virus ini sangat menular dan dapat ditularkan melalui darah, cairan sperma, serta cairan tubuh lainnya. Diagnosis dan pengobatan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan hati seperti sirosis.
- Virus Herpes Simpleks (HSV): Baik Tipe I (herpes pada bibir) maupun Tipe II (herpes genital) secara teori dapat ditularkan melalui ejakulasi. Risikonya meningkat secara signifikan jika terdapat luka herpes yang terbuka.
- Virus Sitomegalovirus (CMV): CMV sangat umum dan biasanya tidak menunjukkan gejala. Namun, virus ini dapat menyebabkan masalah bagi orang dengan sistem imun yang lemah dan selama kehamilan. Oleh karena itu, banyak bank sperma yang secara rutin melakukan tes CMV.
- Virus Zika: Virus ini banyak dijumpai di wilayah tropis dan dapat bertahan dalam ejakulasi selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Orang dari daerah berisiko biasanya akan menjalani tes tambahan atau sementara dikecualikan dari donasi.
- HTLV (Human T-cell Lymphotropic Virus): Kelompok virus ini lebih jarang, namun dapat meningkatkan risiko leukemia atau limfoma. Bank sperma yang kredibel biasanya juga melakukan tes HTLV.
Infeksi Bakteri: Chlamydia, Gonore, Sifilis & lebih banyak lagi
Penyakit menular tidak hanya disebabkan oleh virus. Infeksi bakteri juga dapat hadir dalam cairan sperma dan dengan demikian berpotensi ditularkan. Contoh penting meliputi:
- Chlamydia: Salah satu infeksi menular seksual yang paling umum, yang sering tidak menunjukkan gejala. Jika tidak diobati, dapat menyebabkan infertilitas.
- Gonore (Kencing nanah): Disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Infeksi ini juga dapat ditularkan melalui ejakulasi, bahkan jika tidak ada gejala terlihat seperti cairan keluar.
- Sifilis: Disebabkan oleh Treponema pallidum. Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan kerusakan organ yang serius. Karena itu, pengujian untuk sifilis diwajibkan di banyak fasilitas.
- Infeksi bakteri lainnya: Peradangan non-spesifik pada prostat atau saluran kemih dapat membebaskan bakteri ke dalam ejakulasi. Pemeriksaan urologi dapat membantu mengidentifikasi penyebab tersebut sejak dini.
Risiko Genetik: Memantau Penyakit Turunan
Selain bahaya infeksi, calon orangtua juga harus mempertimbangkan risiko genetik yang mungkin ada, karena beberapa penyakit keturunan dapat ditularkan melalui donasi sperma. Biasanya, skrining pencegahan sudah mencakup beberapa tes genetik. Contoh penyakit keturunan yang relevan adalah:
- Fibrosis Sistik (CF): Suatu kelainan yang mempengaruhi paru-paru dan organ pencernaan yang disebabkan oleh mutasi pada gen CFTR.
- Sickle Cell Anemia dan Thalassemia: Kedua penyakit ini mengubah struktur hemoglobin dalam darah (hemoglobinopati).
- Atrofi Otot Spinal (SMA): Suatu gangguan neurologis progresif, di mana perubahan pada gen SMN1 menyebabkan degenerasi neuron motorik.
- Penyakit Tay-Sachs: Suatu gangguan neurodegeneratif langka yang disebabkan oleh mutasi pada gen HEXA.
- Sindrom Fragile X: Bentuk paling umum dari gangguan mental yang diwariskan, disebabkan oleh perubahan pada gen FMR1.
Donasi Sperma Pribadi atau Bank Sperma: Mana yang Lebih Aman?
Mereka yang memilih untuk melakukan donasi sperma sering menghadapi pertanyaan apakah akan menggunakan donor pribadi atau bank sperma. Kedua opsi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Bank Sperma
Bank sperma melakukan skrining yang ketat dengan serangkaian tes berjenjang dan fase karantina. Pemeriksaan genetik juga sering menjadi bagian dari proses tersebut. Di beberapa negara, seperti Jerman, terdapat pula registri donor sperma yang memberikan hak kepada anak nanti untuk mengetahui asal usul biologis mereka. Prosedur hukum dan medis diatur dengan baik, sehingga menjamin tingkat keamanan yang tinggi.
Donasi Pribadi
Donasi pribadi terkadang bisa lebih murah atau bersifat personal. Namun, bukti kesehatan seringkali sulit untuk didapatkan, dan tidak ada karantina terstruktur serta pengujian berjenjang seperti pada bank sperma. Selain itu, pertanyaan hukum – seperti hak asuh dan tunjangan – bisa menjadi lebih kompleks. Oleh karena itu, bagi yang memilih donasi pribadi, sangat penting untuk memiliki dokumen medis terkini dan menyelesaikan aspek hukum sejak dini.
Prosedur Skrining di Bank Sperma yang Diatur oleh Negara
Di banyak negara, bank sperma tunduk pada regulasi negara dengan persyaratan hukum dan medis yang jelas. Pedoman ini bertujuan untuk melindungi penerima maupun donor dengan sebaik-baiknya dan memastikan penggunaan donasi sperma secara bertanggung jawab. Secara umum, pedoman tersebut mencakup:
- Anamnesis Medis: Wawancara komprehensif mengenai riwayat kesehatan dan keluarga donor.
- Tes Darah: Pemeriksaan untuk penyakit infeksi seperti HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan Sifilis serta patogen lain yang relevan sesuai dengan wilayah.
- Swab: Tes untuk infeksi menular seksual seperti Gonore atau Chlamydia.
- Tes Tambahan: Berdasarkan faktor risiko, asal-usul, atau lokasi donor, mungkin diperlukan pemeriksaan tambahan (misalnya untuk Virus Zika atau HTLV).
- Masa Karantina: Sel sperma biasanya dibekukan dan disimpan selama beberapa bulan. Setelah itu, donor akan dites kembali untuk memastikan tidak ada infeksi baru yang sebelumnya belum terdeteksi.
Tindakan-tindakan tersebut dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan penyakit, meskipun tidak pernah dapat dihilangkan sepenuhnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi mereka yang menginginkan anak untuk segera mendiskusikan semua pertanyaan dengan para ahli dan, bila perlu, mencari saran hukum atau medis.
Kesimpulan
Donasi sperma menawarkan banyak peluang, namun juga membawa tanggung jawab tersendiri. Dengan memperoleh informasi sejak dini mengenai skrining, regulasi hukum, dan risiko genetik, dasar untuk donasi yang aman dapat diletakkan, sehingga mengurangi ketidakpastian di kemudian hari. Selain pendekatan medis yang bertanggung jawab, komunikasi yang terbuka dengan semua pihak yang terlibat juga tidak boleh diabaikan. Dengan cara ini, donasi sperma dapat menjadi pilihan yang bermakna dan dapat dipercaya dalam perjalanan menuju pembentukan keluarga sendiri.